Aku
sedang mengejar waktu yang rasanya cepat sekali berlalu dan berlari menuju ujung.
“Pukul 17.00 aku harus sudah menyelesaikan tugas ini” batinku. Tugas yang sedang aku
kerjakan harus aku kirimkan sebelum pukul 19.00 . Aku cukup banyak mengabaikan
hal-hal lain selain tugas ini dalam beberapa jam. Kira-kira sudah 2 jam aku
membiarkan ponselku tergeletak tanpa kupantau. Hanya laptop dengan layar berisi
tugas yang ada di pandanganku. Bahkan suara orang-orang di sekitarku pun tak
kuhiraukan karena aku memilih untuk memasangkan headset di telinga. Memang, aku
butuh waktuku sendiri saat sedang mengejar waktu. 30 menit kulalui dengan
pandangan tak lepas dari layar laptop, 900an kata sudah kutuliskan di dalam
laporanku. Tinggal sedikit lagi, batinku senang. Harus ada 2000 kata yang
terhitung di dalam laporanku kali ini. 5 menit-an lagi terlewati, dan aku sudah
menambah 150an kata tambahan dari sebelumnya.
Saat
sedang fokus dan sibuk berlari melawan waktu, berusaha melampaui kemampuanku
sendiri dan mengabaikan godaan-godaan di sekitar, fokusku terusik saat temanku
tiba-tiba mengajakku berbicara dan ada hal yang harus ia lakukan untukku,
melalui laptopku. Aku berpikir “aku bisa melakukannya sendiri”, tapi aku tidak
mau egois hanya untuk itu. Aku memilih terdiam. Menunggu temanku selesai dengan
tindakannya. Kira-kira melewati 5 menit lah kubiarkan temanku menjamah
laptopku, dan aku? Hanya terdiam termenung. Tanpa sadar aku melamun. Pikiranku
tiba-tiba terbawa. Aku membatin “ kalau saja tadi fokusku tidak terpecah, pasti
aku sudah melanjutkan hampir 100 kata atau bahkan lebih”. Egoku kembali naik,
namun tak lupa hati ini ikut diskusi, “hush gaboleh gitu, kan temanmu ini juga
butuh bantuanmu, ia juga membantumu”. Agak lama pikiranku hanyut dan berdebat
seadanya menimbang-nimbang dan menghitung kemungkinan-kemungkinan yang ada. “Anda
saja...”, “Coba kalo tadi...”. Pikiran-pikiran cemas berubah menjadi pikiran
remeh “ah, coba saja tidak dekat deadline atau tidak ada deadline, pasti deh
kamu gaakan secemas ini dengan waktumu yang terbuang, barang 5 menit-an saja”.
Di
dalam pikiran terakhir yang muncul di kepalaku waktu itu, akhirnya
lamunanku terbuyar. Temanku sudah selesai dengan urusannya dan aku bisa
melanjutkan pekerjaanku kembali dan ya, Alhamdulillah pekerjaanku selesai
sebelum waktu yang kutentukan, sebelum pukul 17.00.
Di
sisa hari itu pikiranku berkecamuk, sejujurnya, tapi syukurlah tidak terlalu
mengganggu aktivitasku.
Aku sudah terbiasa menjadi
deadliner. Entah mengapa. Rasanya badanku, otakku baru mau bekerja maksimal
saat sudah mendekati deadline. Rasanya aku baru merasa “berusaha” saat sudah
mendekati deadline. Rasanya hari-hari tanpa deadline tidak menimbulkan dorongan
yang berarti, makna dan memori apapun di hidupku. Hidupku terbatas akan
deadline. Saat ada deadline, baru deh aku
sadar bahwa aku perlu untuk ingat, untuk terpacu, untuk berlari, untuk berusaha
lebih, untuk yakin bahwa aku mampu.
Pikiranku
berkecamuk.
Tak lama sebelum hari itu, aku
dapat kabar salah satu kerabat dekatku dahulu, sudah sampai di deadline
hidupnya (sudah meninggal dunia).
Hatiku berkecamuk.
Kamu, Ul? Kamu perlu deadline supaya kamu bisa terpacu? Batinku
Banyak waktu yang malah aku
habiskan untuk hal-hal yang tidak perlu. Waktu luang yang banyak terasa
menggiurkan. Seolah-olah meminta dimanja. Meminta diperhatikan. Saat waktu
luang, pikiran tidak mau diajak berlari, inginnya bobo saja, bersantai lah, “kan
tidak ada deadline”.
Yang sering kulupa, Hidup ini penuh teka-teki.
Tak tahu 1
menit, 3 menit, 5 menit, 10 menit, 30 menit, 45 menit, 47 menit, 50 menit, 1
jam, 2 jam 3 detik dari sekarang, apakah sistem organ di tubuh ini masih akan
tetap berjalan? Apakah paru-paru ini masih bisa mengembang di detik berikutnya?
Apakah jantung ini masih bisa memompa darah ke seluruh sel-sel di tubuh dalam
beberapa menit setelah ini?
Tidak ada yang tahu, Kecuali Dia.
Se-clueless-itu.
Sedangkan aku sebagai manusia
terkadang terlalu hanyut. Lebih mengorbankan ibadah yang barang 10 menit saja
sebenarnya tidak sampai, tapi lebih mengedepankan gengsi untuk tidak terlambat datang
rapat. Lebih mengorbankan ibadah yang barang 5 menit saja sebenarnya tidak
sampai, tapi lebih mengedepankan asiknya pembicaraan dengan teman-teman yang
membicarakan teman lainnya. Lebih mengorbankan hal-hal yang lebih bermakna di
hadapan-Nya, karena takut mendapatkan tekanan dari lingkungan sosialnya.
Padahal tak ada yang tahu, kapan kamu akan tiba pada masa menemui deadline hidupmu sendiri. Bisa saja 1 detik lagi, 2 detik lagi, 5 detik
lagi, tidak sampai menit, bisa saja itu deadlinemu.
Mungkin, kalau aku tahu
deadlineku, aku akan lebih terpacu, akan lebih berusaha belajar tentang
keyakinanku, meminta ampun, tidak melakukan dosa-dosa, tidak meninggalkan
ibadahku, menjauhi segala larangan-larangan, tidak peduli seberapa buruk
citraku di depan manusia lain, asalkan baik di hadapan-Nya.
Tapi, siapa yang tahu? Kamu tidak
akan pernah tahu. Memangnya kamu tahu?
Depok, 27 Oktober 2018, sebelum
deadline.
0 komentar:
Post a Comment