In My Stories

Sudahkah Aku?


                  Gue sedang menunggu beberapa waktu sebelum gue harus cabut bertemu dengan sahabat-sahabat masa putih abu-abu plus gue sudah bosan berkutat dengan ponsel pintar daritadi (padahal harusnya gue mandi HEHE), akhirnya gue memutuskan untuk menulis ini sebentar karena gue teringat akan suatu hal. Mungkin karena hari ini hari Jumat juga dan rumah gue berseberangan langsung dengan masjid, rasanya suara adzan dan khotbah yang terdengar membuat gue memikirkan hal ini tiba-tiba.

                Gifta, salah satu sahabat kampus gue ini, adalah orang yang menurut gue sangat ngocol anaknya. Dia dan sahabat gue yang lain selalu berhasil mencairkan suasana di saat kita ngumpul dengan tingkahnya yang kocak dan bahan leluconnya yang aneh bin ngga penting tapi ajaib! Pasti kita ketawa akhirnya. Tapi, di balik kengocolannya ini, gue menemukan sisi gifta yang serius dan kadang-kadang suka bikin gue tersentil plus sadar (walaupun gue ngga bilang sih ke orangnya). Oiya fyi, Gifta ini seorang laki-laki yas (karena sangat banyak yang salah membayangkan setiap kali mendengar namanya). Kenapa gue menceritakan Gifta instead of sahabat gue yang lainnya adalah karena di dalam satu topik ini, entah kenapa gue dan gifta selalu bisa nyambung kalau ngobrol dan gue rasa kami ada di dalam satu frekuensi jadi engga ada baper-baperan dan sensi-sensian meskipun kadang ada debat juga di dalam pembicaraan kami. Yaps, topik tersebut adalah keyakinan (atau ya bisa dikemas dalam topik agama lah bisa dibilang). Fyi juga, Gifta ini juga memiliki keyakinan/kepercayaan yang beda dari gue sebagai seorang muslim.

                Gue masih ingat di saat itu gue pernah dalam perjalanan bersama gifta (karena kebetulan kami baru saja selesai dengan urusan kami di satu acara yang sama) untuk menemui sahabat-sahabat kami yang lain di tempat ngumpul kami seperti biasa. Di saat kami turun dari mobil, ada seorang bapak yang memberikan selebaran kertas berisi artikel tentang islam (sorry guys I forgot the title of the article), karena kebetulan hari itu adalah Hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu karena Gifta yang lebih dekat dengan bapak tersebut, akhirnya Gifta lah yang menerima kertas itu. Gue akhirnya refleks mengucapkan “ Sini, biar gue aja yang bawa kertasnya” setelah kami melewati bapak tersebut. Gifta malah makin menghindarkan kertas tersebut jauh-jauh dari gue sembari berkata “Engga, biar gue aja, gue pengen baca”. Setelah gue dan Gifta masuk ke dalam cafe dan bertemu dengan sahabat kami yang sudah menunggu, ada momen di mana Gifta tiba-tiba menanyakan “Ini tuh apa sih maksudnya?” sembari menunjuk kata-kata di selebaran kertas pemberian bapak tadi. Gue engga nyangka dia beneran membaca kertas tersebut. Gue dan salah satu sahabat gue sontak “Hmmm gimana ya? Gue juga engga ngerti banget sih Gif, itu Sejarah banget gitu soalnya”. Di saat yang bersamaan, sejujurnya gue malu. Gue malu karena gue sebagai Umat Muslim lagi-lagi dikasi sentilan, bahkan dari orang lain yang beda keyakinan dari gue, Gue makin diingatkan kalau gue tidak sepenuhnya mengerti akan apa yang selama ini gue yakini. Gue beranggapan dengan dalih itu adalah “sejarah”, lantas gue menganggap itu adalah hal yang kurang penting untuk gue dalami.

                Gue masih ingat di saat itu entah kenapa materi kuliah dosen yang dibawakan di depan kelas tidak lebih menarik dari obrolan gue dan gifta yang duduk tepat di belakang gue serta salah satu teman di samping gue. Obrolan kali itu cukup berat bisa dibilang dan lagi-lagi tentang agama dan keyakinan, tapi lebih ke hubungannya dengan fenomena-fenomena di sekitar kita pada saat itu, seperti peperangan yang ada, kejahatan, dan lain sebagainya. Entah kenapa saking mengalirnya, saat Dosen di depan kelas sudah selesai membawakan materi pun, kami masih asyik membicarakan topik tersebut.
                Lagi-lagi belakangan ini di saat gue sedang bosan dan rindu dengan sahabat gue karena kita berpisah saat liburan, gue menghubungi mereka. Dan ada satu percakapan antara gue dan Gifta yang gue ingat.

                  “Lu liburan ada plan apa ul?”
                 “Gue.. pengen benerin ibadah gue gif” “ trs pengen baca bukuu (plan dr kapan tau yang                         pernah gagal)” “Lo?”

                “Good” “Gua baca islamologi, buku kristen dan fk of course”

                Little did he know percakapan kali itu cukup memberikan gue tamparan keras. Gue salut dia sangat punya keinginan untuk mendalami dan mencari makna di dalam keyakinan yang bahkan tidak dia anut. Sedangkan gue yang sudah lahir dengan keyakinan ini, merasa gue sudah puas dan mengerti apa yang selama ini gue kerjakan.  Padahal kenyataannya tidak.

               Jadi, Sudahkah kamu paham dengan apa yang selama ini kamu cap sebagai keyakinan? Bagaimana bisa kamu yakin, sebelum kamu tahu makna dan arti di dalamnya?

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment