In my point of view My Stories ruang tenang

Mendewasa

         Tahun 2021 jadi momentum. Momentum tahun ke-4 gue melepas status “anak-anak” gue dan masuk ke kelompok usia dewasa (gatau sih, tp vaksin anak IDAI sampai 18 tahun aja). Cukup banyak hal-hal yang gue rasakan di usia 20 tahun-an ini dan rasanya cukup tidak sesuai dengan bayangan ketika gue masih di usia 15 tahun-an saat baru lulus SMA. Gue kurang tahu hal ini gue rasakan karena adanya tuntutan sosial di kalangan usia kepala 2 atau memang, usia 20-an memang usia yang berat dan diminta untuk belajar keras tentang hidup (okeh mungkin bapak-bapak/ibu-ibu akan tertawa baca tulisan piyik kepala 2 ini). Anehnya lagi, gue mempertanyakan apakah gue sudah cukup dewasa untuk dibilang ada di kelompok usia dewasa? Well maybe I should say thanks for my longing nights, for the deep talk with my pillow and also, tears.

                Temen-temen gue yang usianya 20-an, rasanya semuanya sedang kerja keras berlari dengan dirinya masing-masing, sampai-sampai gue sendiri mempertanyakan apakah gue diperbolehkan untuk berhenti dan istirahat sebentar.

                Rasanya baru 4 tahun, tapi orang-orang lain seperti sudah punya tujuan larinya masing-masing yang cukup jelas di depan mata, sampai-sampai gue sendiri mempertanyakan apakah gue terlambat kalau mulai memikirkan hal itu baru-baru ini? Rasanya seperti bimbang dengan diri sendiri jadi hal yang tabu. Gue bahkan tidak cukup yakin apakah gue  bisa sampai ke tujuan yang gue pikirkan saat ini. Rasanya, hal yang dulu saat kecil gue elu-elukan, tampak menyeramkan ketika dilihat dari jarak yang lebih dekat seperti saat ini. Sayangnya di hidup ini tidak ada tombol “hint” atau “clue” yang mungkin bisa mengarahkan gue ke jalan-jalan yang menuju ke tujuan gue. Gue baru sadar kalau gue harus bikin jalan sendiri.

                Selama 4 tahun ini, rasanya membandingkan kecepatan lari diri sendiri dengan orang lain terasa memuaskan. Padahal waktu nengok ke orang lain yang lagi lari, gue gatau ada hal apa di depan gue yang bisa aja gue tabrak. Rasanya menemukan fakta bahwa orang lain tidak sebegitunya keras berlari justru seperti memberi makan ego gue sendiri, melegakan. Aneh. Seakan-akan gue lari hanya karena orang-orang lain juga lari, bukan karena gue pengen lari. Gue baru belajar bahwa sulit sekali untuk sekadar fokus ke diri sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, ketidaksempurnaan yang gue miliki saat ini, justru jadi penyadaran kalau gue memang ditujukan untuk terus belajar dan memperbaiki diri di dunia ini. Cuma butuh konsistensi dan disiplin dengan diri gue sendiri. You’re so much more than you think you are right now. You rule your own world. You can explore anything, decide, and choose which experience that will shape you, because surprisingly, everything that happens will shape you. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini, membandingkan diri sendiri dan orang lain terasa melegakan karena gue memproyeksikan kecemasan yang gue rasakan akan hidup di diri orang lain, supaya gue tidak merasa terlalu “gagal” dalam hidup.

                Gue juga baru belajar kalau sekadar memaafkan diri sendiri rasanya jadi hal yang cukup susah untuk dilakukan. Memaafkan diri sendiri karena pernah begitu mempercayai seseorang lebih dari kepercayaan pada diri sendiri, memaafkan diri sendiri karena berkali-kali jatuh ke lubang yang sama, memaafkan diri sendiri setelah menjilat ludah sendiri, atau sekadar memaafkan diri sendiri karena merasa ragu akan sesuatu, salah langkah, maupun hilang arah. Rasanya lebih mudah untuk menjadi pemaaf kepada orang lain yang melakukan kesalahan berkali-kali, dibandingkan memaafkan diri sendiri pun yang hanya butuh satu kali. Cuma butuh menerima, bahwa diri gue ini bukan orang sakti kok. Cuma perlu selalu ingat kalau dengan memaafkan diri sendiri, gue memberikan kesempatan untuk maju dengan diri gue yang baru dan akan terbuka harapan-harapan baru. Cuma perlu terus disadarkan bahwa semua yang terjadi di masa lalu justru membantu gue untuk maju ke depan. Sadar bahwa proses perjalanan meninggalkan masa lalu justru mengingatkan gue bahwa yang perlu gue lakukan hanya terus maju, agar masa lalu gue semakin jauh tertinggal di belakang, tanpa bebannya harus terus dibawa-bawa. Karena mau bagaimana pun, semuanya semu dan yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Justru dengan menerima dan memaafkan diri sendiri, akan lebih yakin bahwa gue disiapkan dengan apa yang akan datang dan temui di depan.

                Gue baru belajar bahwa memahami diri gue sendiri jadi hal yang perlu untuk dilakukan supaya gue mendewasa. Justru dengan memahami diri gue sendiri, gue sadar bahwa gue adalah total mess, tapi itu yang bikin gue indah. Paham bahwa masih banyak yang perlu gue pelajari, perbaiki, perkuat untuk kedepannya, supaya gue semakin indah dengan ketidaksempurnaan gue. Paham bahwa diri kita sendiri dulu yang perlu kita isi, sebelum kita mengisi orang lain. Jangan malah sibuk mengisi tanki orang lain, padahal tanki kita sendiri kosong. Kalau gitu, apa yang mau dibagi? Gue juga jadi paham di sini bukan waktunya menunjuk dan memperjelas ketidaksempurnaan orang lain, karena jelas-jelas diri sendiri pun ngga sempurna. Cuma butuh menjadi bagian indah dari ketidaksempurnaan orang lain. 

                Gue jadi belajar bahwa mendewasa butuh usaha keras justru untuk memperjuangkan diri sendiri dulu. You’re worthy to feel your own love first. Gue jadi paham kenapa kita diciptakan disini engga sendirian. Karena memang kita tidak diciptakan untuk menjadi yang paling penuh, tapi hanya perlu memilih orang-orang di sekitar kita yang bisa menghargai proses mencintai diri masing-masing dan membuat kita merasa penuh. Orang-orang yang bisa melihat porsi keindahan dirinya sendiri dan yakin bahwa dirinya berharga, bermakna yang pastinya akan bertemu dengan seseorang yang memang butuh porsi yang sama.

                Well, Sekarang gue tahu, kenapa periode usia “dewasa” itu panjang banget sebelum akhirnya seseorang disebut lansia, dan gue siap untuk terus belajar.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment