In

Sosok Itu

Bau apa ini?

Baru saja Kamis lalu rasanya kita mencium aroma baru

Momen yang sudah lama kita tunggu-tunggu

Walaupun ternyata tetap merasa tidak siap maju

Tapi satu yang kuyakini, aku pasti bisa kalau denganmu


Saat sudah mulai nyaman beradu

Lagi-lagi kamu harus mengadu

Hanya Sabtu, Minggu kita bertemu

Detik jam melesat seperti terburu-buru

Harapannya bisa dihentikan dulu

Supaya makin lama bersamamu


Tiap Minggu rasanya seperti bertemu kamu yang terus baru

Aku menyaksikanmu bertransformasi menjadi sosok itu

Sosok yang belum pernah kugambarkan ada di kamu

Ternyata naluri itu ada di kamu

Tampak terbentuk tanpa diramu

Walaupun terkadang akunya yang cemburu

Yang kamu nantikan bukan lagi aku

Tapi buah cintamu 


Gestur-gestur kecilmu juga mewarnai ruang memoriku

Sadar tidak sadar itu sangat membantuku

Segelas air putih yang kaubawakan untukku

Apapun yang kaulakukan untuk menuruti nyamanku

Serta usahamu untuk menimang buah cinta di sikumu 

Walaupun kamu masih tidak puas karena kakumu


Aku paham rasa di dadamu

Kalau bisa tidak mengadu pasti kamu lebih memilih itu

Tapi kan tidak bisa begitu?

Kamu juga paham aku tak sekuat itu

Maka kata-katamu yang akan kupegang selalu

Semangat sayang untuk peranku dan peranmu

Kita hadapi dengan tukar kabar dan semangati satu persatu


Kalau bisa aku sampaikan ke kamu

Mungkin terima kasih saja tidak cukup untukmu

Beribu-ribu doa kupanjatkan selalu

Untuk kamu, kita, dan semua hal di ujung jalan itu


Bismillah selalu,

Semangat selalu.


- a.n.

12 Sept 2024

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ruang tenang

Mengenalmu, Mengenal Aku

 Akan kuperkenalkan orang-orang di sini tentangmu, yang dengan mengenalmu aku juga jadi lebih mengenal diriku. Tulisan ini jadinya bukan tentang kamu, tapi aku. Namun, mereka pasti akan tahu tentang kamu. 

Aku tidak tahu pasti kapan aku mulai mengenalmu. Yang tidak aku tahu menahu akhirnya pun sedalam itu. Pertemuan-pertemuan lalu rasanya hanya sepintas momen yang tidak kusadari tentangmu. Namun ada detail-detail kecil yang kamu bagikan untukku. Tanpa kusadari, itu melekat di aku. 

Ada beberapa momen yang sulit hilang dari ingatanku, tapi sama sekali tidak menggangguku. Sungguh. Aku malah ingin terus menambah ingatan-ingatanku tentangmu. 

Aku menikmati momen membahas makna dari puisi Pak Sapardi Djoko Damono bersamamu. Kala itu bulan Juni. Sesuai dengan potongan sajak yang kita bahas. Semenjak itu, hujan terus muncul dan menumbuhkan tanaman serta bunga baru di relungku. 

Puisi "Aku Ingin" juga tak luput dari bahasan kala itu. Yang aku sadari ataupun tidak, jadi inspirasiku belajar mencintai kamu. 

Aku senang kamu memperkenalkan aku musik dengan genre kesukaanmu. Tuba Skinny, Avalon, Andrea Motis. Genre musik yang katamu membuat ingin berdansa saat mendengarnya. Tidakkah kamu sadar, kalau selama ini kamu sudah sering berdansa di pikiranku bahkan tanpa musik yang mengalun sekalipun?

Aku menyimpan betul ingatanku tentang senja yang katamu kamu curi dari tempat yang kamu pernah tuju. Agar seperti Sukab dalam Sepotong Senja untuk Pacarku. Aku berharap kamu di sini bersamaku, katamu. 

Aku sangat menikmati momen-momen selepas menonton film bersamamu. Kamu apik dalam memaknai setiap apa yang kamu lihat. Hanyut tapi tidak ikut larut. Tidak ada yang luput dari pekamu. 

Aku antusias dengan cerita-ceritamu. Tentang bagaimana kamu melatih tangan kirimu untuk menulis. Agar terbiasa, katamu. Unik menurutku. Pun tak pernah terbersit di benakku tentang hal itu. 

Aku menikmati momen menemanimu menyelesaikan segala riuh di kepalamu. Menggali dokumen-dokumen penting dan menyelesaikan segala to-do-list dengan fokus yang tidak bisa diganggu. Namun ada di sini dan dianggap tidak mengganggu, itu bermakna sekali untuk aku.

Aku menikmati setiap momen pulang bersamamu. Selepas menggendong beban berat di kantorku dan kantormu. Tidak lama memang, tapi sudah cukup buatku mengobati rindu seharian tidak bertemu. 

Aku terinspirasi dengan caramu memikirkan hidup. Kamu tidak tergesa-gesa, mimpimu sederhana, tapi kamu yakin dan pasti dengan apa yang mau kamu tuju. Kamu bahkan tidak meninggalkan aku di tengah jalan itu. Kamu mengajak aku berjalan bersamamu. 

Aku selalu penasaran dengan apa-apa yang ada di kepalamu. Bagaimana bisa pertanyaan-pertanyaanmu membuat kita hanyut ke diskusi-diskusi baru. Bukan cuma satu, seringnya sih begitu.

Aku mendambakan setiap malam yang kita habiskan untuk membicarakan ini itu. Di bawah langit, ditemani bintang-bintang yang perlahan meredup satu persatu. Biasanya momen itu ada saat kita tak satu tuju. Tapi justru selepas itu, semuanya jadi satu. 

Kalau boleh, aku ingin terus mengenalmu. Menyimpan setiap berkas berisi rekaman momen bersamamu di kepalaku. Di sudut paling kiri yang dulu sempat aku sembunyikan dari siapapun. Yang biasanya sunyi, berdebu, dan tak tersentuh. Kali ini sudut itu akan terus aku tuju, agar akan terus ada yang baru-baru tentangmu. 


Boleh ya? aku mau.  



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In My Stories

Belajar dari Rasa Bosan

Tulisan ini ditulis mumpung ada mood untuk menulis lagi, sebelum perasaan ini tidak tertoreh dan tidak jadi tertulis abadi.

Belakangan ini gue sudah mulai bosan dengan rutinitas harian gue. 

-- Pagi bangun, magang dari jam 9-4 sore, pulang, tidur sore, makan malem, me-time, tidur, repeat.--

Udah. Enam bulan ini rasanya menjalani rutinitas yang sama. Tanpa target. Rasa-rasanya gue melakukan ini semua hanya untuk mengisi waktu luang saja. Sampe-sampe udah gaada excitement-nya lagi setiap bangun, siap-siap berangkat juga udah ga satsetsatset lagi, kerjaan dilakuin yang penting kelar, pulang-pulang tetep cape padahal ga mikir banyak dan gaada tugas yang dibawa pulang.

Tapi belakangan ini sering sekelibat kepikiran. Ga sekelibat deng, beneran diikutin lamunannya HEHE.  Biasanya kalau lagi di atas gojek, sepanjang jalan masuk ke tempat magang, lagi rebahan setelah cape menjalani hari, suka tiba-tiba ngelamun dan flashback ke hari di mana gue anxious tentang apa yang mau gue lakuin setelah lulus.

I tend to be really insecure about myself, self-critical, having this negative belief toward myself. Pikiran ini melayang ke momen di mana gue merasa gue gapunya skill apa-apa untuk dijadikan pegangan dalam menjalani hidup (a.k.a mencari sesuap nasi, a.k.a nyari cuan). Rasanya waktu itu stuck bgt. Gatau mau ngapain setelah lulus, jangan-jangan bakalan nganggur doang tapi pengeluaran tetep ada heuheu (bisa diliat di sini ya cara gue menggambarkan "nganggur" sebagai sesuatu yg jelek bagi org yg abis lulus aja udah kurang baik). Tapi masalahnya itu gue liat kalau gue melihat diri gue di posisi itu, kalau orang lain yang ada di posisi itu (nganggur), gue ga mempermasalahkan itu dan ngerti bahwa mungkin orang itu punya tanggungan, fokus, minat, pertimbangan yg lain etc etc, atau simply, emang pengen istirahat aja dari kesibukan. In that level of anxiety, padahal kaga dikejar apa-apa sic hehe.

Di masa terpuruk itu, apakah gue bangkit dan langsung membuat plan? o engga (WKWK dasar aq). Gue lebih banyak nangis dan berserah. Mungkin karena masih penuh ujian-ujian akhir juga ya jadi gue lebih ke yauda gue jalanin dulu aja yang ada di depan mata. Di saat itu gue gapunya bayangan apapun tentang apa yg akan gue lakukan setelah lulus. Padahal lowongan job, project udah banyak banget disebar di grup angkatan hampir setiap hari, tapi tetep aja gue gatau mau milih yang mana.

Sampai hal yang tidak disangka-sangka terjadi. Kakak tingkat gue yang pernah 1 organisasi nelfon, ngabarin kalau ada slot kosong di tempat magangnya dan dia kepikiran kalau gue mungkin mau apply disitu. Di momen itu, apakah gue langsung mengiyakan? Oh engga juga WKWK gue masih insecure, apakah gue bisa ya? apakah ini beneran yang gue pengen? Tapi takut gaada pengalaman apa-apa gimana dong?. Nanyaa berulang-ulang kali. Ya gitudeh ya manusia emang, udah mintaaaaaa, dikasihh, pas dikasih TETEP BINGUNG. Tapi akhirnya gue mengambil tawaran itu dengan modal… Bismillah. Never in any chance I expected to be in this exact position, untuk magang di departemen ini, di bidang ini. I was just surrendering myself. Gue ga ngejar tawaran ini, gue bahkan tidak mencari-cari info tentang kerja magang di sini, tapi tawaran itu datang langsung ke gue, dari kakak tingkat gue ini🥺. I will never forget her kindness..

Semenjak saat itu, gue mulai magang, tapi gue masih belum sadar.  Gue hanya menjalani rutinitas sampaiii bosan seperti saat ini. Gue belum sadar kalau selama ini gue take all of this for granted. Udah ada kegiatan setelah lulus, udah nyaman sama temen-temen di tempat magang, udah ada tabungan, tapi tetep aja banyak ngeluhnya.

Di dalam kebosanan akan rutinitas ini, gue jadi sadar bahwa mungkin selama ini, gue udah terlalu sering hanyut sama diri gue sendiri, sampe lupa kalau ada banyak tangan dan kebaikan yang hadir di sekitar gue yang bikin gue bisa ada di posisi sekarang. Gue jadi sadar bahwa mungkin di hidup ini, ada banyaknya dinamika hidup tuh emang dimaksudkan untuk ini: untuk sadar bahwa tempat gue akhirnya memang bukan disini. Untuk sadar bahwa apa yang terjadi saat ini tuh  emang ngga akan konstan dan lempeng2 aja. Kenapa? Karena pencipta kita mau kita terus sadar, terus peka, terus belajar, bahwa kita semua ada di sini, untuk sebentar. Setelah ini, akan ada lagi. Setelah Bahagia, ada sedih. Setelah sedih, ada Bahagia. Di saat Bahagia, ada khawatirnya. Di saat sedih, ada bersyukurnya. Di saat nyaman, ada penyadarannya. Di saat bosen, ada penawarnya.

Gue jadi sadar kalau kita merasakan dan menjalani ini semua karena pencipta kita pengen kita terus bersyukur. Coba kalau kita bahagia terus, kayanya kita gaakan tau sesaknya rasanya sedih. Coba kalau kita sedih terus, gaakan ada penghayatan dari rasa melambung, geli-geli di perut karena bahagia. Coba kalau kita pede terus, gaakan ada kesempatan untuk mengaktualisasi diri dan mau terus berkembang. Coba kalau kita takut terus, gaakan ada pengalaman dari sulitnya melawan rasa takut.

Dan saat ini, rasa bosan ini membuat gue sadar, bahwa mungkin gue emang sudah terlalu hanyut dengan nyamannya rutinitas yang gue lakukan sampai gue tidak menghayati bahwa apa yang gue lakukan sekarang adalah apa yang daridulu gue inginkan dan belum yakin bisa gue lakukan.

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ruang tenang

Sederhana.

Ini tentang kita,

Yang sama-sama masih meraba


Sejumput rasa percaya sebagai dasarnya

Seujung sendok perhatian-perhatian manja

Tambahkan komunikasi, kalau bisa sebanyak-banyaknya


Seperti membuat racikan,

Ikutkan hatimu di dalamnya, agar hangatnya terasa

Langkah terakhir: cicipi, agar konsisten rasanya


Sederhana,

Tapi kaya rasa


Sederhana,

Tapi kaya makna


-a.n.

20-08-2021

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ruang tenang

Tentang Perayaan: 6 Juni

Kali ini aku menulis lagi

Bukan, bukan dengan rasa yang sebelumnya

Kali ini tidak terpaksa

Malah seperti merincikan syukur rasanya


Kali ini tangisku bukan tentang menghakimi diri sendiri

Bukan elegi

Justru tentang memaknai

Bahwa masih banyak yang bisa menjadi arti


Pertanyaan-pertanyaan pun masih ada

tapi biasanya "kenapa harus saya?"

sekarang malah sebaliknya

"beneran ini buat saya?"


Bertemu denganmu terasa seperti hadiah dari semesta

Tidak terduga

Semuanya seperti terjadi begitu saja


Mengenalmu terasa seperti berdialog dengan diri sendiri

Aku seperti menemukan diri ini lagi


Memahamimu terasa seperti upaya mencintai diri sendiri

Namun yang ini, aku tidak merasa perlu menguli


Kalau boleh aku sampaikan lagi

Akan mungkin ada hal baru nanti

Tapi satu yang pasti

Aku tidak akan pernah berhenti


-a.n. 

1 hari sebelum 6 Juni 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In my point of view My Stories ruang tenang

Mendewasa

         Tahun 2021 jadi momentum. Momentum tahun ke-4 gue melepas status “anak-anak” gue dan masuk ke kelompok usia dewasa (gatau sih, tp vaksin anak IDAI sampai 18 tahun aja). Cukup banyak hal-hal yang gue rasakan di usia 20 tahun-an ini dan rasanya cukup tidak sesuai dengan bayangan ketika gue masih di usia 15 tahun-an saat baru lulus SMA. Gue kurang tahu hal ini gue rasakan karena adanya tuntutan sosial di kalangan usia kepala 2 atau memang, usia 20-an memang usia yang berat dan diminta untuk belajar keras tentang hidup (okeh mungkin bapak-bapak/ibu-ibu akan tertawa baca tulisan piyik kepala 2 ini). Anehnya lagi, gue mempertanyakan apakah gue sudah cukup dewasa untuk dibilang ada di kelompok usia dewasa? Well maybe I should say thanks for my longing nights, for the deep talk with my pillow and also, tears.

                Temen-temen gue yang usianya 20-an, rasanya semuanya sedang kerja keras berlari dengan dirinya masing-masing, sampai-sampai gue sendiri mempertanyakan apakah gue diperbolehkan untuk berhenti dan istirahat sebentar.

                Rasanya baru 4 tahun, tapi orang-orang lain seperti sudah punya tujuan larinya masing-masing yang cukup jelas di depan mata, sampai-sampai gue sendiri mempertanyakan apakah gue terlambat kalau mulai memikirkan hal itu baru-baru ini? Rasanya seperti bimbang dengan diri sendiri jadi hal yang tabu. Gue bahkan tidak cukup yakin apakah gue  bisa sampai ke tujuan yang gue pikirkan saat ini. Rasanya, hal yang dulu saat kecil gue elu-elukan, tampak menyeramkan ketika dilihat dari jarak yang lebih dekat seperti saat ini. Sayangnya di hidup ini tidak ada tombol “hint” atau “clue” yang mungkin bisa mengarahkan gue ke jalan-jalan yang menuju ke tujuan gue. Gue baru sadar kalau gue harus bikin jalan sendiri.

                Selama 4 tahun ini, rasanya membandingkan kecepatan lari diri sendiri dengan orang lain terasa memuaskan. Padahal waktu nengok ke orang lain yang lagi lari, gue gatau ada hal apa di depan gue yang bisa aja gue tabrak. Rasanya menemukan fakta bahwa orang lain tidak sebegitunya keras berlari justru seperti memberi makan ego gue sendiri, melegakan. Aneh. Seakan-akan gue lari hanya karena orang-orang lain juga lari, bukan karena gue pengen lari. Gue baru belajar bahwa sulit sekali untuk sekadar fokus ke diri sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, ketidaksempurnaan yang gue miliki saat ini, justru jadi penyadaran kalau gue memang ditujukan untuk terus belajar dan memperbaiki diri di dunia ini. Cuma butuh konsistensi dan disiplin dengan diri gue sendiri. You’re so much more than you think you are right now. You rule your own world. You can explore anything, decide, and choose which experience that will shape you, because surprisingly, everything that happens will shape you. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini, membandingkan diri sendiri dan orang lain terasa melegakan karena gue memproyeksikan kecemasan yang gue rasakan akan hidup di diri orang lain, supaya gue tidak merasa terlalu “gagal” dalam hidup.

                Gue juga baru belajar kalau sekadar memaafkan diri sendiri rasanya jadi hal yang cukup susah untuk dilakukan. Memaafkan diri sendiri karena pernah begitu mempercayai seseorang lebih dari kepercayaan pada diri sendiri, memaafkan diri sendiri karena berkali-kali jatuh ke lubang yang sama, memaafkan diri sendiri setelah menjilat ludah sendiri, atau sekadar memaafkan diri sendiri karena merasa ragu akan sesuatu, salah langkah, maupun hilang arah. Rasanya lebih mudah untuk menjadi pemaaf kepada orang lain yang melakukan kesalahan berkali-kali, dibandingkan memaafkan diri sendiri pun yang hanya butuh satu kali. Cuma butuh menerima, bahwa diri gue ini bukan orang sakti kok. Cuma perlu selalu ingat kalau dengan memaafkan diri sendiri, gue memberikan kesempatan untuk maju dengan diri gue yang baru dan akan terbuka harapan-harapan baru. Cuma perlu terus disadarkan bahwa semua yang terjadi di masa lalu justru membantu gue untuk maju ke depan. Sadar bahwa proses perjalanan meninggalkan masa lalu justru mengingatkan gue bahwa yang perlu gue lakukan hanya terus maju, agar masa lalu gue semakin jauh tertinggal di belakang, tanpa bebannya harus terus dibawa-bawa. Karena mau bagaimana pun, semuanya semu dan yang sudah terjadi tidak akan bisa diubah. Justru dengan menerima dan memaafkan diri sendiri, akan lebih yakin bahwa gue disiapkan dengan apa yang akan datang dan temui di depan.

                Gue baru belajar bahwa memahami diri gue sendiri jadi hal yang perlu untuk dilakukan supaya gue mendewasa. Justru dengan memahami diri gue sendiri, gue sadar bahwa gue adalah total mess, tapi itu yang bikin gue indah. Paham bahwa masih banyak yang perlu gue pelajari, perbaiki, perkuat untuk kedepannya, supaya gue semakin indah dengan ketidaksempurnaan gue. Paham bahwa diri kita sendiri dulu yang perlu kita isi, sebelum kita mengisi orang lain. Jangan malah sibuk mengisi tanki orang lain, padahal tanki kita sendiri kosong. Kalau gitu, apa yang mau dibagi? Gue juga jadi paham di sini bukan waktunya menunjuk dan memperjelas ketidaksempurnaan orang lain, karena jelas-jelas diri sendiri pun ngga sempurna. Cuma butuh menjadi bagian indah dari ketidaksempurnaan orang lain. 

                Gue jadi belajar bahwa mendewasa butuh usaha keras justru untuk memperjuangkan diri sendiri dulu. You’re worthy to feel your own love first. Gue jadi paham kenapa kita diciptakan disini engga sendirian. Karena memang kita tidak diciptakan untuk menjadi yang paling penuh, tapi hanya perlu memilih orang-orang di sekitar kita yang bisa menghargai proses mencintai diri masing-masing dan membuat kita merasa penuh. Orang-orang yang bisa melihat porsi keindahan dirinya sendiri dan yakin bahwa dirinya berharga, bermakna yang pastinya akan bertemu dengan seseorang yang memang butuh porsi yang sama.

                Well, Sekarang gue tahu, kenapa periode usia “dewasa” itu panjang banget sebelum akhirnya seseorang disebut lansia, dan gue siap untuk terus belajar.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ruang tenang

Biarkan aku jadi langit

Aku ingin menjadi langit

Terbentang luas

Semua yang hendak singgah, bebas 

Aku ingin menjadi langit
Matahari yang membakar sekalipun
Jika hendak singgah, bebas

Aku ingin menjadi langit
Bulan yang sedang tampak tak utuhpun
Jika hendak singgah, bebas

Aku ingin menjadi langit
Agar bintang dapat singgah
Menambah kerlip, mempercantik

Aku ingin menjadi langit
Ada tidaknya yang singgah
Aku akan tetap indah

Sekalipun langit sedang menangis
Rintik hujannya pun justru menenangkan jiwa-jiwa di bumi
Padahal langit sedang sedih

Sekali lagi,
Biarkan aku jadi langit. 

-a.n.
24-12-20

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments