Tulisan ini ditulis mumpung ada mood
untuk menulis lagi, sebelum perasaan ini tidak tertoreh dan tidak jadi
tertulis abadi.
Belakangan ini gue sudah mulai
bosan dengan rutinitas harian gue.
-- Pagi bangun, magang dari jam 9-4
sore, pulang, tidur sore, makan malem, me-time, tidur, repeat.--
Udah. Enam bulan ini rasanya
menjalani rutinitas yang sama. Tanpa target. Rasa-rasanya gue melakukan ini
semua hanya untuk mengisi waktu luang saja. Sampe-sampe udah gaada excitement-nya
lagi setiap bangun, siap-siap berangkat juga udah ga satsetsatset lagi, kerjaan
dilakuin yang penting kelar, pulang-pulang tetep cape padahal ga mikir banyak
dan gaada tugas yang dibawa pulang.
Tapi belakangan ini sering
sekelibat kepikiran. Ga sekelibat deng, beneran diikutin lamunannya HEHE. Biasanya kalau lagi di atas gojek, sepanjang jalan
masuk ke tempat magang, lagi rebahan setelah cape menjalani hari, suka tiba-tiba
ngelamun dan flashback ke hari di mana gue anxious tentang apa yang mau gue
lakuin setelah lulus.
I tend to be really insecure
about myself, self-critical, having this negative belief toward myself.
Pikiran ini melayang ke momen di mana gue merasa gue gapunya skill apa-apa
untuk dijadikan pegangan dalam menjalani hidup (a.k.a mencari sesuap nasi,
a.k.a nyari cuan). Rasanya waktu itu stuck bgt. Gatau mau ngapain setelah
lulus, jangan-jangan bakalan nganggur doang tapi pengeluaran tetep ada heuheu
(bisa diliat di sini ya cara gue menggambarkan "nganggur" sebagai
sesuatu yg jelek bagi org yg abis lulus aja udah kurang baik). Tapi masalahnya
itu gue liat kalau gue melihat diri gue di posisi itu, kalau orang lain yang
ada di posisi itu (nganggur), gue ga mempermasalahkan itu dan ngerti bahwa
mungkin orang itu punya tanggungan, fokus, minat, pertimbangan yg lain etc
etc, atau simply, emang pengen istirahat aja dari kesibukan. In that level of anxiety,
padahal kaga dikejar apa-apa sic hehe.
Di masa terpuruk itu, apakah gue
bangkit dan langsung membuat plan? o engga (WKWK dasar aq). Gue lebih banyak nangis dan berserah. Mungkin karena masih penuh ujian-ujian
akhir juga ya jadi gue lebih ke yauda gue jalanin dulu aja yang ada di depan
mata. Di saat itu gue gapunya bayangan apapun tentang apa yg akan gue
lakukan setelah lulus. Padahal lowongan job, project udah banyak banget disebar
di grup angkatan hampir setiap hari, tapi tetep aja gue gatau mau milih yang mana.
Sampai hal yang tidak disangka-sangka
terjadi. Kakak tingkat gue yang pernah 1 organisasi nelfon, ngabarin kalau ada
slot kosong di tempat magangnya dan dia kepikiran kalau gue mungkin mau apply
disitu. Di momen itu, apakah gue langsung mengiyakan? Oh engga juga WKWK gue
masih insecure, apakah gue bisa ya? apakah ini beneran yang gue pengen?
Tapi takut gaada pengalaman apa-apa gimana dong?. Nanyaa berulang-ulang kali. Ya gitudeh
ya manusia emang, udah mintaaaaaa, dikasihh, pas dikasih TETEP BINGUNG. Tapi
akhirnya gue mengambil tawaran itu dengan modal… Bismillah. Never in any chance
I expected to be in this exact position, untuk magang di departemen ini, di
bidang ini. I was just surrendering myself. Gue ga ngejar tawaran
ini, gue bahkan tidak mencari-cari info tentang kerja magang di sini, tapi
tawaran itu datang langsung ke gue, dari kakak tingkat gue ini🥺.
I will never forget her kindness..
Semenjak saat itu, gue mulai
magang, tapi gue masih belum sadar. Gue
hanya menjalani rutinitas sampaiii bosan seperti saat ini. Gue belum sadar
kalau selama ini gue take all of this for granted. Udah ada kegiatan
setelah lulus, udah nyaman sama temen-temen di tempat magang, udah ada tabungan,
tapi tetep aja banyak ngeluhnya.
Di dalam kebosanan akan rutinitas
ini, gue jadi sadar bahwa mungkin selama ini, gue udah terlalu sering hanyut
sama diri gue sendiri, sampe lupa kalau ada banyak tangan dan kebaikan yang
hadir di sekitar gue yang bikin gue bisa ada di posisi sekarang. Gue jadi sadar
bahwa mungkin di hidup ini, ada banyaknya dinamika hidup tuh emang dimaksudkan
untuk ini: untuk sadar bahwa tempat gue akhirnya memang bukan disini. Untuk sadar
bahwa apa yang terjadi saat ini tuh emang
ngga akan konstan dan lempeng2 aja. Kenapa? Karena pencipta kita mau kita terus
sadar, terus peka, terus belajar, bahwa kita semua ada di sini, untuk sebentar.
Setelah ini, akan ada lagi. Setelah Bahagia, ada sedih. Setelah sedih, ada Bahagia.
Di saat Bahagia, ada khawatirnya. Di saat sedih, ada bersyukurnya. Di saat nyaman,
ada penyadarannya. Di saat bosen, ada penawarnya.
Gue jadi sadar kalau kita
merasakan dan menjalani ini semua karena pencipta kita pengen kita terus
bersyukur. Coba kalau kita bahagia terus, kayanya kita gaakan tau sesaknya rasanya
sedih. Coba kalau kita sedih terus, gaakan ada penghayatan dari rasa melambung,
geli-geli di perut karena bahagia. Coba kalau kita pede terus, gaakan ada kesempatan
untuk mengaktualisasi diri dan mau terus berkembang. Coba kalau kita takut
terus, gaakan ada pengalaman dari sulitnya melawan rasa takut.
Dan saat ini, rasa bosan ini
membuat gue sadar, bahwa mungkin gue emang sudah terlalu hanyut dengan
nyamannya rutinitas yang gue lakukan sampai gue tidak menghayati bahwa apa yang
gue lakukan sekarang adalah apa yang daridulu gue inginkan dan belum yakin bisa
gue lakukan.