Akan kuperkenalkan orang-orang di sini tentangmu, yang dengan mengenalmu aku juga jadi lebih mengenal diriku. Tulisan ini jadinya bukan tentang kamu, tapi aku. Namun, mereka pasti akan tahu tentang kamu.
Aku tidak tahu pasti kapan aku mulai mengenalmu. Yang tidak aku tahu menahu akhirnya pun sedalam itu. Pertemuan-pertemuan lalu rasanya hanya sepintas momen yang tidak kusadari tentangmu. Namun ada detail-detail kecil yang kamu bagikan untukku. Tanpa kusadari, itu melekat di aku.
Ada beberapa momen yang sulit hilang dari ingatanku, tapi sama sekali tidak menggangguku. Sungguh. Aku malah ingin terus menambah ingatan-ingatanku tentangmu.
Aku menikmati momen membahas makna dari puisi Pak Sapardi Djoko Damono bersamamu. Kala itu bulan Juni. Sesuai dengan potongan sajak yang kita bahas. Semenjak itu, hujan terus muncul dan menumbuhkan tanaman serta bunga baru di relungku.
Puisi "Aku Ingin" juga tak luput dari bahasan kala itu. Yang aku sadari ataupun tidak, jadi inspirasiku belajar mencintai kamu.
Aku senang kamu memperkenalkan aku musik dengan genre kesukaanmu. Tuba Skinny, Avalon, Andrea Motis. Genre musik yang katamu membuat ingin berdansa saat mendengarnya. Tidakkah kamu sadar, kalau selama ini kamu sudah sering berdansa di pikiranku bahkan tanpa musik yang mengalun sekalipun?
Aku menyimpan betul ingatanku tentang senja yang katamu kamu curi dari tempat yang kamu pernah tuju. Agar seperti Sukab dalam Sepotong Senja untuk Pacarku. Aku berharap kamu di sini bersamaku, katamu.
Aku sangat menikmati momen-momen selepas menonton film bersamamu. Kamu apik dalam memaknai setiap apa yang kamu lihat. Hanyut tapi tidak ikut larut. Tidak ada yang luput dari pekamu.
Aku antusias dengan cerita-ceritamu. Tentang bagaimana kamu melatih tangan kirimu untuk menulis. Agar terbiasa, katamu. Unik menurutku. Pun tak pernah terbersit di benakku tentang hal itu.
Aku menikmati momen menemanimu menyelesaikan segala riuh di kepalamu. Menggali dokumen-dokumen penting dan menyelesaikan segala to-do-list dengan fokus yang tidak bisa diganggu. Namun ada di sini dan dianggap tidak mengganggu, itu bermakna sekali untuk aku.
Aku menikmati setiap momen pulang bersamamu. Selepas menggendong beban berat di kantorku dan kantormu. Tidak lama memang, tapi sudah cukup buatku mengobati rindu seharian tidak bertemu.
Aku terinspirasi dengan caramu memikirkan hidup. Kamu tidak tergesa-gesa, mimpimu sederhana, tapi kamu yakin dan pasti dengan apa yang mau kamu tuju. Kamu bahkan tidak meninggalkan aku di tengah jalan itu. Kamu mengajak aku berjalan bersamamu.
Aku selalu penasaran dengan apa-apa yang ada di kepalamu. Bagaimana bisa pertanyaan-pertanyaanmu membuat kita hanyut ke diskusi-diskusi baru. Bukan cuma satu, seringnya sih begitu.
Aku mendambakan setiap malam yang kita habiskan untuk membicarakan ini itu. Di bawah langit, ditemani bintang-bintang yang perlahan meredup satu persatu. Biasanya momen itu ada saat kita tak satu tuju. Tapi justru selepas itu, semuanya jadi satu.
Kalau boleh, aku ingin terus mengenalmu. Menyimpan setiap berkas berisi rekaman momen bersamamu di kepalaku. Di sudut paling kiri yang dulu sempat aku sembunyikan dari siapapun. Yang biasanya sunyi, berdebu, dan tak tersentuh. Kali ini sudut itu akan terus aku tuju, agar akan terus ada yang baru-baru tentangmu.
Boleh ya? aku mau.
0 komentar:
Post a Comment