In my point of view My Stories

Sebuah Penyadaran


                Hari ini entah kenapa gue pengen nulis aja mumpung gue ada jadwal longgar dan gue punya me-time untuk kembali flashback ke beberapa hari belakangan yang sudah gue habiskan di Jakarta. Sebenernya gue gatau si apakah cerita yang akan gue tulis ini  akan ada pesannya apa engga, tp intinya gue mau nulis cerita ini karena gue rasa cerita ini patut aja untuk gue ingat-ingat nantinya kalau-kalau gue baca tulisan ini gue akan ingat lah minimal (karena gue orangnya lupaan).

                15 Juli 2018, hari Minggu kemaren lebih tepatnya adalah hari di mana gue, beberapa teman dan kakak di organisasi “Kafetaria” mengikuti salah satu acara besar, yang bisa gue bilang kaya pesta rakyat sih, untuk memperingati ulang tahun suatu perusahaan gitu. Konon katanya, perusahaan ini memang setiap tahunnya selalu mengadakan pesta rakyat ini. Kenapa gue bilang pesta rakyat karena di dalam peringatan ultah perusahaan tersebut, tetangga-tetangga di wilayah perusahaan tersebut, bahkan bisa dibilang warga kampung di sekitaran perusahaan tersebut (yang luas cakupannya tentunya) turut disertakan dalam peringatan hari tersebut. Di sana bahkan ada lomba-lomba yang melibatkan warga kampung sekitar perusahaan, seperti lomba menghias sepeda untuk anak (gemes bgt btw), lomba tari tradisional dan tari modern untuk setiap RT di sekitaran perusahaan tersebut, bahkan sampe ada doorprize (udah macem peringatan 17 agustusan gasi) dan cek kesehatan untuk warga kampung sekitar perusahaan tersebut. Nah, organisasi gue ini diundang untuk mengisi cek kesehatan di sana.

                Di pos cek kesehatan, di situ yang bertugas nantinya adalah kami dari anggota Kafetaria. Pada hari itu ada 14 anggota Kafetaria yang ikut dan bervariasi dari tingkat 1 yang belum pernah ketemu pasien langsung, tingkat 2 (gue dan 2 teman gue), sampe yang tingkat atas bgt udh tinggal dikit lg jadi dokter muda. Cek kesehatan di acara tersebut di bagi per meja dengan setiap meja diisi oleh 2 orang dari kami, untuk nantinya kami mengecek tekanan darah (tensi), kadar glukosa darah (gula darah), kadar asam urat di darah, dan kolesterol. Gue agak deg deg an sih awalnya waktu ditawarin untuk ikut di acara ini karena memang ada kuotanya jadi engga semua bisa ikut dan gue takut karena gue merasa belum siap aja gitu ketemu pasien di lapangan tapi karena gue teringat hal tersebut akan menjadi hal yang akan gue tekuni selama hidup gue nantinya, akhirnya gue memberanikan diri untuk ikut dan terjang aja boss karena gue yakin pasti bakal dibantuin dan itung-itung ini jadi bahan belajar gue. Di hari H bener aja ternyata memang gue mendapatkan bantuan dari salah satu kakak angkatan atas yang udah tinggal 1 tahun lg dapet gelar “dr.” di depan namanya (sedangkan perjalanan gue masih jauh bgt) Alhamdulillah.

                Sejauh ini sebenarnya gue udah sih belajar gimana cara ngukur tensi, gula darah, kolesterol, dan asam urat (GCU = Glucose, Cholesterol, Uric Acid) ini. Tapi, gue belum pernah langsung ke pasien dan hal yang gue takutkan adalah kalau nanti ada hasil yang ngga normal, gue harus bisa ngasih edukasi yang baik ke pasien tersebut. Alhasil, Kakak yang jaga di meja yang sama dengan gue (Kak Nadia namanya) lah yang melakukan anamnesis dan edukasinya, sedangkan gue membantu memasang alat tensi, menyiapkan jarum untuk cek gula darah, kolesterol, dan asam urat. Sejujurnya gue sangat kagum (karena kak Nadia sangat menunjukkan citranya sebagai dokter gitu, gue yang di sebelahnya denger waktu dia lagi anamnesis rasanya kaya diperhatiin gitu hahaha) sekaligus minder karena gue merasa gue kagok bgt berhadapan langsung dengan pasien.

                Singkat cerita, ada satu poin di hari itu yang cukup membuat gue tersadar kalau  hubungan dokter-pasien bukan hanya tentang periksa à kasih obat à pulang.

                Gue inget banget gue pernah dapet materi tentang anamnesis (sering banget sih sebenernya) bahwa anamnesis (atau penggalian riwayat pasien tentang penyakit yang diderita dan latar belakang penyakitnya) itu bukan sekedar wawancara kepada pasien dengan tujuan agar kita tahu penyakit mereka apa dan nyari obat yang tepat itu apa. Tapi, dengan adanya anamnesis ini, hubungan antara dokter-pasien akan terbentuk. Pasien yang merasa diperhatikan, diapproach oleh dokter, diberi edukasi dan pengertian yang baik akan kondisinya akan lebih dapat menerima keadaannya dan akhirya percaya kepada dokter untuk mencurahkan keluhannya. Well, sebenernya part ini ga terlalu nyambung sih sama poin cerita gue, tapi yang paling gue bisa dapatkan disini adalah bahwa dengan adanya hubungan dokter-pasien ini, setidaknya pasien yang datang awalnya dengan keluhan dan ke khawatiran, dengan adanya pertemuan dengan dokter akhirnya dapat mendapatkan semangatnya kembali dan pencerahan akan kondisinya. Gue bisa bilang dengan anamnesis ini bisa banget menurunkan tingkat kecemasan pasien akan kondisinya (kalau anamnesisnya dilakukan secara tepat ya tentunya).

                Yak lanjut lagi ke cerita hari H kala itu. Ada dua kondisi dari beberapa warga yang kami periksa di meja cek kesehatan waktu itu. 1 warga (sebut saja pasien A) yang datang dan hasilnya adalah tekanan darahnya agak tinggi (hampir lah mendekati hipertensi) dan 1 warga (sebut saja pasien B)  lagi yang datang dan hasilnya adalah tekanan darahnya bisa dibilang SANGAT tinggi.

                Fyi, tekanan darah sudah dapat dikatakan hipertensi saat tekanan sistolik  140-159 dan diastoliknya 90-99. Tapi, pada range itu sebenarnya belum memerlukan terapi farmakologi (bantuan obat). Hanya dengan pengubahan gaya hidup saja seperti olahraga yang rutin, mengurangi makanan tinggi lemak jahat dan mengoptimalkan konsumsi makanan tinggi serat serta vitamin, tidak merokok, hipertensi tersebut dapat teratasi. Nah namun di saat angka tekanan darah sistoliknya sudah mencapai 160, seharusnya sudah mendapatkan obat-obatan penurun tekanan darah untuk membantu penurunan tekanan darah karena sudah tergolong tinggi.

Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi [1]
Klasifikasi
Sistolik

Diastolik
Optimal
< 120
Dan
< 80
Normal
120-129
Dan/ atau
80-84
Normal tinggi
130-139
Dan/ atau
84-89
Hipertensi derajat 1
140-159
Dan/ atau
90-99
Hipertensi derajat 2
160-179
Dan/ atau
100-109
Hipertensi derajat 3
180
Dan/ atau
≥ 110
Hipertensi sistolik terisolasi
140
dan
< 90

                Pasien A menunjukkan hasil yang hampir mendekati hipertensi pada waktu itu (bisa dihitung lah dengan hitungan jari 1 tangan, beberapa angka lagi sudah mencapai tahap hipertensi). Namun, gue waktu itu cukup kaget karena Kak Nadia bilang ke pasien tersebut “Ibu, ini hasilnya tekanan darah Ibu masih bagus kokk, tapi tinggal beberapa angka lagi nih bisa dibilang tinggi. Nah, ibu harus tetap semangat yaa. Makanannya dijaga ibuu, jangan makan gorengan terus terusan, makannya kalau bisa sayur buu. Tapi kalau memang sampai kebawa mimpi karena pengen makan sesuatu, boleh laah ya sekali-sekali yakan daripada kebawa mimpi jadi stress ya bu. Terus Ibu juga rajin olahraga bu atau melakukan aktivitas fisik. Bisa kok buu hanya jalan-jalan keliling kampungg itu sudah termasuk olahraga”. Gue lihat kak Nadia menyampaikan kalimat tersebut dengan tenang, tanpa ada kepanikan dan kekhawatiran sedikit pun yang terlihat di wajahnya. Rasa-rasanya kalau gue menjadi ibu yang ada di hadapannya, gue akan santai dan tenang banget denger nasihatnya tadi tanpa ada perintah gitu rasanya. Gue cukup kaget karena gue kira kak Nadia akan memberikan warning ke Ibu tersebut bahwa tekanan darahnya sebentar lagi sudah bisa dibilang hipertensi dan menunjukkan kekhawatirannya akan angka yang tinggal sedikit ituu supaya Ibu tersebut aware akan rentannya angka tersebut. Namun ternyata tidak, Kak Nadia malah memberikan pilihan kepada Ibu tersebut dengan nasihatnya.

                Kemudian Pasien B, seorang bapak datang dengan keluhan sering tiba-tiba sakit kepala dan kakinya sering kaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya di atas 200. Gue yang pada saat itu melihat hasilnya, tidak bisa menahan kekagetan gue akan hasil tersebut. Gue refleks mengernyitkan dahi gue dan menunjukkan pandangan yang tidak baik ke kak Nadia sebagai tanda gue menunjukkan ekspresi kaget. Tapi, gue salut saat Kak Nadia yang waktu itu mencatatkan angkanya ke kertas yag akan dibawa bapak tersebut, buru-buru menutup angka tersebut dengan jarinya dan dengan perlahan mulai memberikan bapak tersebut nasihat. Lagi-lagi tanpa ada kekhawatiran di dalam mimik mukanya yang ia tunjukkan. Ia tidak memaksa maupun memerintah. Tidak ada tekanan yang pasien tersebut terima. Saya rasa, bapak yang tadi datang dan mendapat nasihat dari Kak Nadia malah merasa keluhannya didengar dan dimengerti.  Padahal, dengan kondisi tersebut, bapak tersebut bisa saja tiba-tiba hilang kesadaran saking tingginya tekanan darahnya. Namun, Kak Nadia sama sekali tidak membahas hal tersebut. Yang ia sampaikan ke pasien hanya hal positif yang mendorong setiap warga yang datang ke meja kami untuk lebih semangat dengan kondisinya.

                Sejak saat itu gue baru tersadar kalau hubungan dokter-pasien sepenting itu. Namun, tetap Dokter harus bisa meembawa flow interaksi tersebut. 

Pasien yang datang dengan keluhan, meengharapkan ketenangan, pengertian, pendengar akan keluhannya.

              Dengan datang ke dokter menandakan kepercayaan mereka akan dokter, akan apa yang akan dokter sampaikan. Dengan penyampaian informasi dan nasihat yang membangun dan positif, pasien akan lebih mendengarkan dan menerima informasi yang ada sehingga akan lebih patuh dengan nasihat dokter.
               

Daftar Pustaka
1.  1. Soenarta AA, Erwinanto, Mumpuni ASS, Barack R, Lukito AA, Hersunarti N, et al. Pedoman tatalaksana hipertensi pada penyakit kardiovaskular. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia; 2015.



Related Articles

0 komentar:

Post a Comment