In my point of view My Stories

Refleksi

              Sudah lama gue tidak menjamah blog gue dan ini menurut gue saat yang tepat untuk menulis (cieile) padahal gue punya acara setelah ini, tapi ya begitulah sepertinya dorongan untuk menulis dan menyendiri sejenak ini lebih besar daripada niat gue untuk keluar kamar hari ini.

Oke, tapi gue ingin informed consent aja kl tulisan ini gue tulis kayanya bakalan gaada poinnya karena gue emang niatnya curhat aja sih hahah dan gue rasa dengan gue nulis dan coba mencurahkan perasaan gue, gue makin bisa memahami diri gue sendiri dan apa yang gue rasakan.

                Sejak kemarin gue merasa emotionally drained. Entah apa yang membuat gue merasa tiba-tiba tidak bersemangat bertemu orang, involved di kegiatan yang sebelumnya membuat gue senang. Setelah gue mencoba berkontemplasi dan refleksi diri, gue rasa yang salah dari diri gue semingguan ini adalah gue terlalu sibuk berlari. Gue terlalu banyak melakukan kegiatan, bertemu dengan orang-orang (yang sebenernya ngga baru gue kenal si tapi gue menggali dan mengenal individu-individu tersebut lebih dalam). Gue yang kemarin masih batu dengan diri gue sendiri dan merasa rasa lelah dan salah untuk memiliki perasaan gue kemarin, akhirnya tersadar kalo lo wajar dan normal untuk merasa capek, wajar untuk ngeluh dan berhenti sebentar, supaya lo peka dengan lingkungan sekitar lo dan tidak hanya fokus ke “gue,gue, dan gue”.

 (Source : Instagram @nkcthi)

                Sejak berkontemplasi kemarin gue akhirnya mendapatkan kesimpulan kalau gue gue butuh charging up. Dengan cara apa? Mencurahkan isi hati gue (walaupun gue bingung juga dengan apa yang gue rasakan kemarin -_-). Alhasil gue hubungi lah orang tersayang dalam hidup gue (Ibu) dan kayanya ibu gue aja bingung gitu gimana ngeresponnya hahaha sedih. Tapi at least, setelah gue cerita, gue menangiskan semuanya, rasanya semua perasaan sedih, capek, dan ketidakjelasan perasaan gue sedikit kabur.

                Setelah itu gue merasa tenang sebentar dan tidak gue sangka-sangka ada hal lain lagi yang mengusik ketenangan gue. Tidak bisa gue ceritakan, tapi entah mengapa it affects my mood malem kemarin dan waaah, gue mulai kacau lagi. Akhirnya gue berpikir, coba berkontemplasi lagi dengan acuan teori dari buku “The Subtle Art of Not Giving a F*ck” dan ya... praktiknya tidak semudah teori but i tried. Gue coba memahami diri gue lagi.

      “Kenapa gue bisa merasakan hal ini?”
      “Kenapa hal ini bisa membuat gue irritated?”
      “Apa yang bisa gue lakukan untuk menenangkan gue saat ini?”
      “Gimana kalo misalnya hal ini dilakukan oleh orang lain selain orang ini, apakah gue akan merasakan hal yang sama?”
       “Plan of action gue apa nih untuk menghadapi kejadian kaya gini lagi ke depannya?”
      “Apa pencegahan yang perlu gue lakukan untuk menghindari perasaan ini lagi akan          kemungkinan kejadian ini terjadi lagi di masa mendatang?”
                Gue mencoba menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu tadi di kepala gue. Gue sedikit tenang sih, tapi makin banyak pikiran hahahha. Akhirnya gue tau apa yang harus gue lakukan supaya pikiran gue ini dapat tercurahkan dan gue semakin enteng, bisa melihat kejadian ini secara utuh lagi.

Yang gue lakukan adalah : DISKUSI.

                Gue rasa setiap orang perlu seseorang yang bisa dijadikan 911 nya yang bisa dihubungi ketika sedih, ketika bingung, ketika capek, ketika pengen ngeluh aja isinya. Bukan artinya kita cuma dateng waktu butuh, tapi kita jadikan orang itu sebagai “rumah” untuk tujuan pulang.

                Gue mencoba menghubungi dia dan mentrigger dengan sebuah pertanyaan yang akhirnya berlanjut menjadi diskusi yang sejalan dengan tema kejadian yang gue alami dan alhasil setelah gue melakukan itu, gue merasa lega dan berpikir “Oiya ya? Kenapa tadi gue ngerasa dan mikir kaya gitu ya akan kejadian itu? Padahal biasa aja..”

                Dari poin yang gue rasakan akhirnya gue menyadari pentingnya merasa capek, sedih, dan perasaan-perasaan gaenak di dalam diri ini. Kita semua sebagai individu diciptakan dengan perasaan. We can feel anything. Mood manusia memang naturalnya labil, fluktuatif. Jadi kalo lo merasa lo berubah mood, itu normal. Gamungkin juga hidup kita isinya seluruhnya ambisi, semangat, kebahagiaan, yang positif-positif doang. Kadang-kadang kita memang perlu untuk merasa sedih, jenuh, bosen, capek. Lalu apa yang harus kita lakukan kalo perasaan (yang kita anggap) “negatif” itu muncul? Pahamin aja. Karena gue yakin, perasaan negatif itu muncul bukan untuk diabaikan, tapi dipahami, dimengerti supaya kita bisa tahu kalau setiap perasaan punya harganya masing-masing.

Dan yang terpenting lagi, kita jadi tahu siapa yang benar-benar bisa kita jadikan rumah untuk tempat pulang :) 

(Source : instagram @nkcthi)

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment