Sudah
beberapa bulan belakangan gue mencoba membatasi penggunaan salah satu sosial
media (sebut saja Instagram). Gue tidak bisa benar-benar melepaskan dan ngilang
sepenuhnya dari situ karena ya tidak bisa dipungkiri terkadang masih banyak
temen gue yang menghubungi gue melalui instagram dan ada beberapa keperluan
tentang organisasi misalnya dan hal-hal lain yang akhirnya membuat gue mau ga
mau harus tetap mengecek instagram setiap minggu.
Walaupun
ada beberapa alasan yang membuat gue tetap mempertahankan instagram ini,
sejujurnya gue lebih punya banyak alasan untuk menghilang dari sosial media
tersebut karena i find this thing is
toxic for me. Well, gue tidak bermaksud menjelek-jelekkan instagram, tapi
mungkin karena sosial media yang dulu paling sering gue buka dan gunakan untuk “lari”
dari kesibukan dan kepenatan urusan gue, ya instagram.
Entah
kenapa dulu saking seringnya gue menjadikan instagram sebagai pelarian (sounds
wrong, but you know what i mean right?), seakan-akan tangan gue udah refleks
untuk ngebuka instagram terlebih dahulu sebelum ngebuka line (yang padahal orang-orang yang lebih penting dan urusan yang
lebih penting dan urgent untuk gue kerjakan ada di sana semua). Tangan gue udah
gatel setiap buka instagram, pasti gue akan membuka story orang-orang yang gue follow
sampe abis dan itu terkadang bisa membentuk persepsi gue terhadap orang-orang
ini tergantung dengan apa yang mereka tampilkan di sana. Biasanya akan berlanjut
dengan gue membuka explore dan yass, makin banyak orang-orang yang tidak gue
follow dan tidak gue kenal (dan tidak mengenal gue pastinya) yang muncul. Tapi
bisa aja dengan gue liat fotonya, gue end up membuka profilnya dan menelusuri “siapa
sih orang ini?”. Jadi kira-kira begitulah, lo bisa bayangin kan berapa banyak
waktu yang gue buang sia-sia hanya untuk mengurusi atau mengintip kehidupan orang
lain yang sebenernya ngga lebih penting dari urusan gue sendiri yang seharusnya
gue kerjakan terlebih dahulu.
Plus,
makin kesini gue merasa dengan gue membuka sosial media ini, penyaki hati gue
sering banget muncul karena mostly apa yang gue liat di situ adalah apa yang
membentuk persepsi gue tentang seseorang, suatu hal, atau suatu fenomena. Gue
bisa jadi memikirkan gossip yang lagi In (padahal engga penting), gue bisa jadi
gampang terbawa opini orang-orang atau netizen yang sangatlah beraneka ragam
akan suatu hal. So, this is why I want to discuss this topic di tulisan gue
kali ini dan menurut gue, poin yang akan gue tulis ini bukan hanya sebatas
untuk sosial media instagram aja, tapi untuk semua sosial media dan
platform-platform yang melibatkan kita sebagai manusia di dalam era modern penuh
dengan teknologi saat ini.
Gue
sangat mensyukuri perkembangan teknologi begitu pesat. Kalau denger cerita
dokter saat ngajar di kelas gue “Kalian tuh harusnya lebih pinter dan jago, di
jaman sekarang gampang, mau cari materi tinggal nyari di internet, mau baca
buku tinggal download e-book nya, mau streaming lecture juga bisa. Dulu tuh ya,
saya waktu kuliah harus baca beberapa buku tebal sebelum kuliah, nah nanti
kalau ada yang belum jelas baru deh di kelas kuliah tanya ke dosennya. Blablablablabla”
(pokoknya panjang lah wejangannya hehe). Gue makin menyadari bahwa gue ada di
jaman yang serba enak, serba manja, dan serba tersedia. Di jaman yang
mengharuskan kita untuk melek teknologi ini menurut gue juga mengharuskan kita
untuk lebih bijak dalam menjadi subjek di dalam perkembangan teknologi yang
ada. Gue ambil contoh poin sosial media di sini ya karena gue rasa ini yang
paling akrab dengan kita.
Gue
meyakini bahwa platform sosial media dibuat dengan niatan yang baik untuk
menghasilkan manfaat yang baik pula. Tapi, tanggung jawab kita sebagai subjek
di dalam sosial media tersebut untuk menggunakannya secara bijak lah yang akan
berpengaruh pada efek dan manfaat yang dihasilkan.
Kita
ambil contoh instagram. Banyak ragam akun yang menurut gue pastinya punya
tujuan dan efeknya sendiri dengan adanya mereka ini. Ada akun yang memang
digunakan sebagai personal blog : berisi dokumentasi pribadi, liburan-liburan
seru, tempat-tempat nongkrong cantik bareng keluarga/temen/pacar, hasil karya (cover,
poetry, etc.) atau eksperimen; ada juga akun yang memang tujuannya untuk bisnis
(jualan barang, nawarin jasa); untuk menshare hal-hal lucu; untuk memberi life hacks;
untuk mengangkat gossip; untuk menghighlight trend yang ada (fashion misalnya,
dari fashion yang tertutup banget sampe terbuka banget juga ada); bahkan
organisasi pemerintahan maupun non-pemerintahan juga ada akunnya. Dengan
contoh-contoh yang gue omongin tadi, gue yakin juga masih banyak akun-akun lain
yang masuk ke kategori yang belum gue tuliskan. Ini menunjukkan kalau platform
ini tuh sebebas itu loh. We can do anything with this technology, but the
choice is ours.
Namun,
gue rasa saking bebasnya platform ini, makin banyak pihak yang kurang bisa
mentoleransi perbedaan dan keberagaman yang ada. Engga jarang kan kita lihat
netizen malah menggunakan kebebasan mereka ini untuk ngebully seseorang (yang
bahkan mungkin engga dikenal). Engga jarang juga ada oknum tidak bertanggung
jawab yang sengaja membawa sensasi atau menyebarkan berita tidak benar (hoax)
karena mereka yang menyebarkan ini melihat kesempatan yang ada bahwa instagram itu
banyak yang menggunakan sehingga berita bohong ini akan lebih mudah membawa
opini banyak orang. Engga jarang juga gue melihat karena unsur “bebas” nya ini,
malah ada orang yang “terlalu menjadi
dirinya sendiri” padahal contoh dan unsur yang ditampilkan membentuk
persepsi orang yang melihat itu menganggap itu hal yang kurang baik, tapi
dengan dalih “ini kan akun gue, suka suka gue lah mau ngeshare apapun”
sampe-sampe melupakan bahwa (karena saking bebasnya juga) anak-anak kecil, yang
normalnya pada usia tsb sangat mudah menyerap informasi dari apa yang mereka
lihat secara langsung akan suatu hal, mungkin akan langsung menganggap hal
jelek itu tuh biasa, benar, dan boleh dicontoh.
So,
menurut gue, sebagai salah satu subjek dari sosial media, kita yang membentuk
citra sosial media, kita sendiri yang menciptakan efek dari sosial media ini, harus
benar-benar melihat ke diri kita masing-masing, sudahkah kita menempatkan
sesuatu pada tempatnya? Sudahkah kita memberikan citra baik kita? Sudahkah kita
memberikan contoh yang baik untuk orang lain? Sudahkah kita memberikan respon
yang baik? Menurut gue kalau setiap orang yang menggunakan sosial media sudah
cukup bisa memahami dirinya sendiri sebagai salah satu subjek dari teknologi
yang harus bertanggung jawab dan menyadari adanya perbedaan yang begitu luas,
efek negatif yang dihasilkan akan lebih minimal.
0 komentar:
Post a Comment